|
Apa jadinya jika manusia tidak mengenal cinta? Temaram pikiran menyeruak merobek tabir rasa dan ketenangan jiwa kian berpudar, lenyap. Sejarah manusia tak berhingga kini. Dunia, yang katanya, diperuntukkan oleh dan sebab cinta menjadi penuh dan tenggelam akibat cinta. Bahkan kita tak akan pernah tahu apakah bumi ini dicipta dari tanah atau dari cinta?
Hanya karena pikiran manusia saja bergaya sok pintar bermain tebak-tebakan dengan Tuhan; dari manakah semua ini ada? Lantas menantang kuasa-Nya dengan menahan tuhannya. Memaksanya untuk memberikan seluruh cinta-Nya kepada manusia. Manusia durhaka yang sok kenal sok dekat dengan Tuhan. Mengaku-ngaku sebagai sang pencinta Tuhan dan manusia. Padahal berhasrat agar dianggap (seolah-olah) dekat. Sementara, seandainya tanpa tabir, pastilah kita kan melihat Tuhan terbahak-bahak melihat polah manusia yang sok tahu.
Sebenarnya mengapa kita sering menyatakan sungguh berhasrat jika berbicara tentang suatu apapun yang berkenaan dengan cinta. Cinta suatu hal yang sulit dimengerti, kecuali dalam birahi. Berbeda, dalam kepala manusia yang terkadang absurd memaknainya. Cinta adalah kasih sayang, kata sebagian orang. Kita bisa lihat apa yang dilakukan cinta pada manusia. Jutaan lebih lagu dan puisi tercipta akibat cinta. Penyair dan musisi mana yang bisa lepas dari jerat cinta. Apalagi belakangan ini musik pop telah tunduk padanya, lantas menghilangkan esensi dari musik itu sendiri. Ya, karena era ini menjadi jalan tol cinta menuju komoditas. Belum lagi sinetron dan tayangan TV tak ubahnya jadi tayangan birahi yang menggiring kaum muda menuju generasi pelacur. Melacur intelektual, melacur etiket, melacur budaya, melacur negara, melacur tubuh dan melacur apapun, kiranya itu tak berlebihan. Lantas kita tak sadar, mungkin tetap selama tak sadar sampai mengalami shock (titik nadir); seperti dibom atom yang menghancurkan pulau Jawa dan meluluh-lantakkan bangunan pikiran manusia. Sehingga kita atau anak bangsa nanti akan menemui kata INDONESIA dalam ensiklopedia bangsa-bangsa yang hancur. Lenyap akibat cinta.
Merunut sejarah, hancurnya kerajaan-kerajaan di tanah Jawi ini pun sebab cinta. Antara perempuan dan cinta adalah antara kuasa dan hasrat. Antara tubuh dan nafsu. Antara agama dan filsafat.Tak terpisahkan selama kita bernama manusia. Tak hanya atas nama agama atau pun kuasa manusia berani berkorban, tapi juga atas nama cinta. Atas nama cinta sesuatu bisa terbangun dan berdiri kokoh, tapi karena cinta pula yang dapat mencerai meluluhkannya.
Tak hanya di tanah Jawa, peradaban manusia pun bermula dari cinta. Cinta seakan menjadi tokoh utama dalam pementasan kehidupan. Namun tokoh utama ini kini masih dalam usia dini. Tergantung si pemilik cinta; akan dibawa kemana dan seperti apa jadinya? Peran cinta dan keterlibatan perempuan tak bisa dinafikan, sangat berpengaruh. Berbagai cerita telah memberi contoh.
Kiranya cukup sesederhana jika memahami cinta sebatas ada dari akibat dorongan-dorongan hasrat yang akhirnya menyembul keluar di ruang sosial, ruang sejarah dan ruang budaya. Karena untuk membedakan alur pemahaman tentang itu perlu sebuah perpustakaan yang punya referensi lengkap. Tapi tak ada salahnya jika kita mampir sejenak dan meminjam beberapa potong lembaran untuk menutupi retakan dan celah dalam pikiran kita.
Libido dan Rasio, antara Selera dan Rasa
Seseorang pernah berbisik tentang cinta yang pada dasarnya merupakan serpihan-serpihan perbedaan, yang satu dengan yang lain saling mengisi yang belum pernah termiliki. Perbedaan dan saling mengisi sebagai titik tolaknya. Cinta, sebuah resapan ruh semesta yang mengalir dalam jiwa-jiwa manusia. Sebuah manifestasi kelemahan manusia; bukti bahwa ia tidak bisa sebagai makhluk yang sepenuhnya pribadi (individu). Lantas berusaha mencari yang lain-yang sesungguhnya adalah bagian dari dirinya yang hilang. Sebagaimana penciptaan hawa; bagian dari Adam, tulang rusuknya. Miliknya. Semacam ada kerinduan untuk menyatukannya kembali bagian tubuhnya itu. Hasrat penyatuan ini terjadi pada wilayah tubuh (persetubuhan) dan kasih sayang (saling mengisi). Ada istilah philia dan eros sebgai pembeda keduanya. Philia menjadi luapan percikan ambisi hasrat yang bersifat tubuh dan pemuasan seksual terhadap lawan jenisnya. Sedangkan eros, mengalir melalui kerinduan kasih sayang dalam jiwa-jiwa yang kesepian terhadap orang tua-anak, sahabat, saudara dan kasih kemanusiaan.
Lebih dalam tentang hasrat dan objeknya, Socrates dan Plato berargumen bahwa hasrat terbentuk dari dua dorongan dasar terhadap yang material (karnal) dan imaterial (libidinal). Sifat material adalah objek yang "bersentuhan" dengan tubuh. Berbeda dengan libidinal, yang berhasrat tubuh pada sesuatu yang imaterial: citraan, harga diri, kekaguman orang lain, kepandaian, dan hal imaterial lainnya. Dalam pembentukannya, libidinal lebih terarah kepada dirinya sendiri, kepada dorongan dan kepentingannya akan pemuasan sang ego. Karena kepuasan libidinal sifatnya imaterial, maka dalam pertumbuhannya sangat memerlukan kehadiran 'yang lain' sebagai apresiatornya.
"Gabungan karnal dan libidinal inilah yang membentuk hasrat," kutipku. Dalam perjalanan menemukan keotentikan kehidupan (aretè-meminjam istilah dalam Phaedo)-nya manusia yang bertubuh mengisyaratkan adanya peranan hasrat yang cukup kuat (dominan) terhadap psyché (jiwa). Di sinilah peran kesadaran berpengaruh, karena rasio (jika) sudah terdominasi oleh hasrat, keduanya memperebutkan kendali tubuh (conscire). Apakah nalar diperbudak oleh hasrat ataukah sebaliknya. Karena bentuk hasrat manusia akan terus lebih dan lebih. Tak berkesudahan dan sifatnya melampaui-hasrat "ultima". Conscire merupakan pusat kendali di diri manusia yang berfungsi sebagai kekuatan pengarah tubuh dan psikis.
Sepertinya tak ada jalan keluar, hasrat akan menang jika tubuh ini telah dikuasainya dan nalar tersingkir, karena jiwa terbelenggu oleh tubuh dimana telah dikuasai oleh hasrat. Socrates menawarkan sebuah jalan: jalan kematian; sebuah jalan menuju pembebasan atas perbudakan. Tapi terkadang kematian ini disalahpahami menjadi bunuh diri (alternatif kompleksitas problem hidup), kematian di sini bersifat non-biologis, agar mampu membunuh hasrat dalam tubuh (soma). Perlu pemakluman yang diinsafi karena itulah fondasi penyeimbang untuk membentuk keselarasan dan keharmonisan.
Tubuh ini tiba-tiba tertuju pada Hegel, yang sekilas menyinggungnya perbedaan hasrat manusia dari kebutuhan binatang, karena, menurutnya, hasrat manusia itu bersifat historis, tertunda dan tak dapat dipuaskan dengan sewajarnya secara definitif. Keinginan merupakan manifestasi sadar dari hasrat, sedangkan manifestasi tak sadar dari hasrat adalah dalam mimpi.
Giliran Michael Foucault dalam The History of Sexuality (1978) menjelaskan dua bentuk kekuasaan yang berperan di dalam wacana ketubuhan: 1) kekuasaan atas tubuh yaitu kekuasaan eksternal yang mengatur tindak tanduk, mengadakan pembatasan, pelarangan dan pengendalian terhadap tubuh (hukum, tabu dan undang-undang), dan 2) kekuasaan yang memancar dari dalam tubuh, yaitu berupa hasrat dan potensi libidonya. Sebegitu besarnya pengaruh hasrat inilah yang menjadikan kehidupan ini berjalan (meski entah kemana arahnya) dan hidup lebih punya taste dan lebih progresif. Hingga sampailah kita di lorong zaman ini, sekarang. Kemajuan segala-galanya; hasil perpaduan hasrat dan nalar manusia.
Kemudian berkomentar tentang hasrat, Baudrillard juga pernah berpandangan bahwa lebih baik manusia itu menyalurkan atau mematerialkan hasratnya dengan menjadi seorang yang konsumeris, karena itu lebih baik daripada manusia menyalurkannya dalam bentuk kekerasan dan kekejaman.
"Bukankah hasrat tersebut hanya hasil konstruksi citraan kapitalisme dengan perputaran modalnya dengan menebar bujuk rayu bahwa hidup manusia akan lebih baik dengan komoditi ini, komoditi itu," kutipku. Gaya hidup konsumerisme adalah permainan citraan dan simbolik, antara komoditi dan hegemoni, antara selera dan kuasa. Kenikmatan imajinasi dan bergesernya tubuh menjadi mesin, logika hasrat dan politik bujuk rayu mengubah kenikmatan tubuh menjadi konsumsi kenikmatan tanpa henti, inilah zaman post-seksualitas.
Lantas, berarti manusia hanya memperturutkan nalarnya pada hasrat yang ultima, tanpa nalar kesadaran menjadi seonggok daging yang diseret selera citra pasar (yang pada dasarnya memang liar).
Poskrip
Mengapa manusia berhasrat? Apakah demi kemajuan...peran cinta yang tanpa hasrat pun akan mengandung dilema. Dilema peradaban menanggung terlampau jauhnya kita meninggalkan cinta yang bersama dengan tubuhnya. Kembalikan cinta pada singgasananya bersama hawa di surga, bukan dalam kebiadaban pikiran dan liarnya selera citra mem-budak conscire. |